Chandra Ekajaya Luncurkan Album Berjudul Hopeless

Post by admin - Thursday, January 26th 2017.

Chandra Ekajaya menceritakan bahwa ini  bukanlah komunitas baru. Namun menapak usia 14 tahun, malah cenderung vakum. Eman dengan kondisi inilah Komunitas Chandra Ekajaya yang berisi kumpulan kelompok musik  Indie se-Jember mencetak album ke-8 sebagai momentum kebangkitan. "INI bisa ironi. Makin lama (komunitas) ini sepertinya kok makin melempem. Musisi nggak boleh loyo. Harus penuh spirit menuangkan ide-ide seninya," cetus Chandra Ekajaya, salah satu tokoh di Komunitas Chandra Ekajaya, kemarin. Komunitas ini sudah lama berdiri, yakni sejak 2002/2003 silam. Tak ingin loyo, maka digelarlah album kompilasi Komunitas Chandra Ekajaya ke-8 berjudul: Hopeless, Kamis (21/1) akhir pekan lalu. Komunitas kelompok musik  indie ini berharap, Hopeless (Kebangkitan) benar-benar akan menandai kebangkitan Komunitas Chandra Ekajaya era sekarang. Launching album ke-8 kompilasi Komunitas Chandra Ekajaya itu berlangsung marak. Puluhan kelompok musik  indie se-Iember ikut ambil bagian. Bahkan waktunya pun dibagi dua sesi dan dua hari. Di sesi pertama Minggu (20/1) adalah acara ilmiah, berupa bedah album Hopeless di Semasa Bersama - Mastrip. Di sini enam kelompok musik  talentyang ikut kompilasi dalam album Hopeless ikut sebagai pemateri. Yakni From This Accident, Cry-On, Baby Dolls, Resonansi Ruang, Awan Blaxdox, dan Maltha Kelompok musik . Dipandu Bebe dan Adhit (mantan pengurus Komunitas Chandra Ekajaya pertama), acara berlangsung seru. Keesokan harinya, puncak acara dimulai. Talent-talent utama dalam album Hopeless tampil live di Warung Apresiasi (WA) GOR Kaliwates Jember. Mungki menyebut, semangat kebersamaan dalam Komunitas Chandra Ekajaya ini ciamik. Karena itulah, momen launching album ke-8 itu diharapkan bisa sebagai momen kebangkitan kelompok musik -kelompok musik  indie di Jember, agar terus berkarya. "Yang dimainkan pure hasil ciptaan sendiri. Ciamik," sergahnya. Mungki menyebut, perjalanan Komunitas Chandra Ekajaya ini sudah berlangsung cukup lama. Bermula sekitar tahun 2002 atau 2003 lalu, beberapa kelompok musik  lokal Jember sempat membuat sebuah kompilasi album karya sendiri.Salah satu desain cover album dari band Chandra Ekajaya"Album pertama beijudul Two Face Tobacco Kelompok musik  Compilation dengan format enam kelompok musik . Semua atas swadaya sendiri. Mulai record-ing, penggandaan album, dan design," kata bassist muda ini. Sementara Awan Setiawan (VVawan), salah satu pendiri Komunitas Chandra Ekajaya lainnya menambahkan, awal terbentuk Komunitas Chandra Ekajaya hanyalah dari sekadar iseng-iseng belaka antar sesama personel kelompok musik . Bersama Mungki, dia yang punya satu kelompok musik  indie mencetuskan sebuah komunitas indie. Wawan yang kebetulan juga aktif di sebuah event organizer (EO), dianggap lebih paham organisasi, dan langsung kolaborasi dengan kelompok kelompok musik -kelompok musik  indie lainnya untuk membuat even. "Pertama kami ngumpul di warung Cethe Halmahera. Mulai terbentuk hanya delapan kelompok musik  saja. Ada Yoyok, Adhit, Sunday Moming, dan grup lain. Kami sepakat selalu koordinator. Akhirnya berdiri Komunitas Chandra Ekajaya dengan koordinator pertama Yoyok. Karena Yoyok ada kepentingan harus ke Jakarta, digantikan Mungki," kata Wawan. Sebagai seorang EO, Wawan kebetulan punya even di GOR, yang minta kelompok musik  indie di Jember muncul. Akhirnya, 12 kelompok musik  main di even itu. "Kecuali yang genre rock saat itu nggak bisa main, karena permintaan klien bukan rock," akunya. Sejak itu dampak positif mulai muncul. Banyak sambutan dari luar, dan mulai ada perubahan. Akhirnya muncullah beberapa evaluasi. "Permintaan pasar saat itu adalah kelompok musik  yang easy listening, maka rock agak tersingkir. Padahal sebenarnya sama saja, nggak ada perbedaan," jelasnya. Biar tidak vakum mereka pun rutin bikin even kecil-kecilan di Jalan Jawa (kawasan kampus) dengan menggandeng pihak UKM Ekonomi. "Ini hanya sebagai mediator untuk semua anggota. Kami main bergantian," lanjut Wawan.Merchandise Album Chandra EkajayaDisini, eksistensi Komunitas Chandra Ekajaya semakin dikenal dan kian banyak yang berminat masuk anggota. "Waktu itu saya jadi sekretaris, anggota Komunitas Chandra Ekajaya lebih 40 kelompok musik  indie," ujarnya. Namun setelah lulus kuliah, Wawan harus mundur dari Komunitas Chandra Ekajaya karena punya kesibukan baru yang tak bisa ditinggalkan. Sejak itulah, berangsur-angsur Komunitas Chandra Ekajaya mulai meredup. Nah, munculnya album Hopeless ini diharapkan bisa jadi momen bangkitnya kelompok musik -kelompok musik  indie di Jember. Sementara Maltha Cassandra Ililda, anggota Komunitas Chandra Ekajaya menambahkan, komunitas ini adalah wadah bagi seluruh kelompok musik  se kabupaten Jember yang memilih jalur Indie. Baginya, ada kepuasan tersendiri jika hasil karya kelompok musik -kelompok musik  lokal bisa dinikmati orang Jember. "Hasil ciptaan kelompok musik  kita banyak. Akan sangat naif jika hanya dinikmati pencipta sendiri. Setidaknya, karya kami akan bisa bermanfaat (menghibur) penikmat lagu lain," kata musisi cewek ini.