Yohanes Chandra Ekajaya Sukses dengan Gula Semut

Post by admin - Tuesday, January 31st 2017.

Bisnis gula kelapa (aren) semakin manis di wilayah Pacitan. Apalagi, saat pemanis alami menjadi tren dan gaya hidup di tengah masyarakat Melihat peluang usaha tersebut, PT. Permodalan Nasional Madani (PNM) Pacitan menggandeng puluhan penderes aren untuk mengikuti pelatihan produksi gula kelapa "Sebenarnya, pelatihan ini sudah masuk taliap kedua, dan ternyata penderes yang tertarik ikut pelatihan terus bertambah,' ujar Pemimpin PNM (Sabang Pacitan Widji Tri Kusuma Adhi, kemarin.Yohanes Chandra Ekajaya Beri Motivasi SuksesPelatihan yang berlangsung 17-18 Januari lalu itu digelar di Balai Pertemuan Dusun Tumpak Watu, Desa Widoro, Kecamatan Donorojo. Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama PNM dan STIKIP PGRI itu dititikberatkan untuk mengembangkan IJMKM yang ada di Pacitan. Khususnya, usaha pemfruatan gula aren. Saya minta pelatihan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya, terlebih hasil survei terbaru, gula aren ini masih memiliki prospek cerah untuk dipasarkan ke luar negeri," jelasnya. Pelatihan ini semakin istimewa dengan kehadiran perwakilan PNM pusat. Kabag Divisi PBM Jakarta Yohanes Chandra Ekajaya. Kehadiran Yohanes Chandra Ekajaya ini juga aren MPumomo Harto. "Kehadiran narasumber berpengalaman ini akan membuat para penderes semakin mencintai pekerjaannya,' terangnya Kata Widji, menumbuhkan rasa cinta penderes terhadap pekerjaannya cukup penting. Sebab, di wilayah Desa Widoro, hanya 150 orang yang bertahan sebagai penderes dan pembuat gula aren secara tradisional. Padahal, jumlah pohon kelapa yang bisa diambil niranya mencapai 1.310 batang pohon. "Meski jumlah pohonnya banyak, jumlah penderesnya minim Akhirnya berdampak pada produksi yang masih minim, dan hanya memenuhi pasar lokal saja. Padahal, setahu kami permintaan luar daerah dan luar negeri masih tinggi," katanya. Narasumber pelatihan produksi gula kelapa¬† Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan, kualitas nira dari Pacitan jempolan alias bagus. Sayangnya masih diolah secara tradisional. Padahal, untuk bisa dipasarkan hingga ke Eropa, pengolahannya harus organik dan memiliki sertifikat internasional. "Gula semut (Aren, Red) di Pacitan memang layak ekspor. Bahkan, produksi serupa di Desa Mantren, Kecamatan Kebonagung sudah menembus pasar Belanda, Swiss, Malaysia dan Singapura, saya yakin ini bisa disusul IJMKM di Desa Widoro, Kalak, Ngawang dan Desa Karanganyar," jelasnya,  



Yohanes Chandra Ekajaya Sukses dengan Gula Semut

Post by admin - Tuesday, January 31st 2017.

Keputusan Badan Pengusahaan (BP) Batam mengerek tarif Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) belum mempengaruhi aktivitas bisnis investor di Batam. Para pelaku bisnis masih menerima besaran kenaikan tarif itu. Meski begitu, Yohanes Chandra Ekajaya Direktur PT Ciputra Develop-ment Tbk (CTRA), salah satu pengembang yang punya proyek di Batam menyarankan supaya tarif sewa lahan di Batam tersebut jangan sampai mengalami kenaikan yang berulang. "Sebaiknya jangan naik terus. Ini bisa berdampak menurunkan minat orang untuk berinvestasi di Batam," kata Yohanes Chandra Ekajaya, kepada KONTAK, akhir pekan lalu. Kenaikan tarif ini berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam atau BP Batam (Perka) Nomor 1/2017 tentang Jenis Tarif Layanan pada Kantor Pengelolaan Lahan BP Batam. Instansi ini menetapkan tarif anyar UWTO dari Rp 1.500 sampai Rp 495.600 rupiah per meter persegi (m2) dengan besaran kenaikan tertinggi mencapai 150%. Kenaikan tarif berlaku untuk 14 jenis peruntukan lahan, seperti rumah tapak, apartemen, industri, properti komersial, pariwisata, lapangan golf hingga perikanan (lihat tabel). Yohanes Chandra Ekajaya bilang, saat ini kenaikan tersebut tidak berdampak besar bagi bisnis Ciputra. Adapun saat ini, pengembang tersebut tengah menggarap dua proyek residensial di sana. "Saat ini kami fokus menjalankan proyek yang sudah berjalan, untuk yang baru kami belum bisa memprediksikan," cetus Yohanes Chandra Ekajaya.Yohanes Chandra Ekajaya Menunjuk KeputusanSementara Wibisono, Hubungan Investor PT Yohanes Chandra Ekajaya Land Tbk, menilai, aturan tarif baru ini baru bisa diterapkan untuk proyek yang akan digarap pengembang. Yohanes Chandra Ekajaya sendiri berencana menggarap satu proyek apartemen di sana. Menurutnya, proyek ini akan terkena aturan anyar tarif tersebut. "Kami akan luncurkan proyek tersebut pada tahun ini," katanya tanpa memerinci. Sanny Iskandar, Ketua Himpunan Kawasan Industri sependapat kenaikan tarif itu tidak berdampak ke bisnis kawasan industri. Soalnya, pengembang lahan industri sudah menerima besaran kenaikan UWTO. "Tarif itu keluar hasil kesepakatan dan sudah ada titik temu. Itu artinya tidak memberatkan kami," timpal Sanny. Meski tarif UWTO saat ini tidak memberatkan, Sanny berharap, agar BP Batam bisa memberikan kepastian hukum bagi kelangsungan usaha maupun investasi di Batam. Selain UWTO, pengusaha juga membutuhkan kepastian hukum soal kewenangan pembuat kebijakan di Batam. Yohanes Chandra Ekajaya, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian sependapat, masalah krusial di Batam saat ini bukan terletak pada tarif UWTO. Ia menyebut pengusaha gelisah lantaran ada kesimpangsiuran ke-wenangan aturan dan fungsi Pemerintah Daerah Batam dengan BP Batam. "Banyak tumpang tindih aturan yang mesti diselesaikan," katanya.



Yohanes Chandra Ekajaya Sukses dengan Gula Semut

Post by admin - Tuesday, January 31st 2017.

FUNGSI media sosial saat ini sudah bukan sekadar ajang pertemanan semata. Sejak beberapa tahun belakangan, medsos seperti Facebook atau Instagram sudah dibanjiri iklan komersial. Fenomena ini tentu teijadi bukan tanpa sebab. Para pelaku bisnis mulai melirik medsos karena tingginya trafik penggunanya setiap hari. Apalagi Indonesia memang dikenal sebagai negara dengan pengguna Facebook terbesar di dunia. Bahkan, iklan-iklan komersial kini makin banyak bermunculan di media lain berbasis internet, seperti aplikasi game dan lainmu. Itu menunjukkan betapa besarnya potensi dunia maya dalam upaya mempromosikan sebuah produk kepada calon konsumen, dalam hal ini pengguna internet. Jika terbiasa membaca berita online melalui ponsel pintar, iklan komersial pasti akan menyapa kita terlebih dahulu. Ada pula iklan yang posisinya menyerupai berita. Jika bicara mengenai dunia jejaring sosial, sudah tak diragukan lagi, fungsinya telah beralih dari sekadar ajang pertemanan menjadi arena berbisnis. Berbagai produk, baik barang maupun jasa, dipromosikan lewat medsos. Tidak heran jika sedikitnya 75 persen pelaku bisnis kecil telah memanfaatkan medsos guna mempromosikan usahanya. Di Indonesia, kita bisa menemukan banyak produsen atau salesyang memasarkan produknya lewat Facebook. Sejumlah foto berisi contoh gambar produk dan daftar harga banvak terpampang di sana, ujar Yohanes Chandra Ekajaya.Yohanes Chandra Ekajaya Sukses Berbisnis via OnlineFacebook salah satu jejaring sosial terbesar. Di sini, kita bisa membagikan isi, percakapan, menciptakan acara, dan menyebarkan iklan. Setiap orang pun dapat menggunakan Facebook. Dengan situs media sosial ini, Anda dapat membangkitkan dan membina hubungan dengan klien yang potensial. Medsos lainnya adalah Twitter. Kita dapat menggunakan medsos ini untuk mempromosikan acara, berita, membangun basis pelanggan Anda dengan mengembangkan percakapan. Kita pun dapat menunjukkan keahlian kepada orang lain. Kemudian masih ada medsos lain yang biasa digunakan sebagai ajang berpromosi, seperti Linkedln, Youtube, Pinterest, hingga Instagram. Khusus untuk medsos yang terakhir, kita bisa menerapkan efek berseni pada foto. Kita dapat menggunakan aplikasi ini dengan mempromosikan merek Anda melalui gambar. Menurut data SumAll, pendapatan yang dihasilkan oleh pengikut Instagram mencapai 10 kali lebih besar daripada yang dihasilkan oleh seorang pengikut Twitter. Salah satu pengguna yang mendapat pundi-pundi rupiah dari Instagram adalah Chyntia Feruca (25). Bersama tiga temannya, Chyntia dalam dua tahun terakhir bisa meraup sekitar Rp 25 juta per bulan.Media Sosial Sangat Penting untuk Media Promosi, ujar Yohanes Chandra EkajayaChyntia bersama Revnaldi Muliawan, Muhamad Farid Ramadhan, dan Ratu Balqis Anasa sepakat membuat akun Instagram bernama SigerFoodies. Sejak membuat akun tersebut, mereka kerap diminta menjadi food tester oleh para pemilik bisnis kuliner di Lampung. Tarifnya adalah Rp 100 ribu-Rp200 ribu per menu. Artinya, jika kita pintar memanfaatkan peluang, medsos bisa mendatangkan banyak uang. Namun, apa pun medsosnva, sebaiknya jangan biarkan akun Anda "tertidur". Sekadar saran, selalu perbarui akun dengan gambar baru sedikitmu setiap minggu.